[Blog Competition] Generasi Muda Indonesia Menjawab Tantangan Masa Depan

Kita semua pasti sangat sering mendengar ucapan para orang dewasa kepada para pelajar yang mengatakan, “ Belajar dari sekarang, kalian adalah generasi penerus bangsa.” Namun, hal tersebut sudah seperti angin lalu yang tidak dipentingkan oleh pelajar karena terlalu sering didengar. Padahal, sesungguhnya kalimat itu sangat bermakna dan benar. Kita harus tekun belajar dari sekarang, agar bisa menghadapi tantangan untuk pribadi maupun bangsa ini.

Belajar tekun itu juga merupakan tantangan yang dihadapi pelajar. Di era globalisasi seperti sekarang, sangat banyak godaan yang membuat pelajar malas melakukan tugas utamanya. Ditambah lagi berbagai jenis mata pelajar, dan tidak semua mata pelajar tersebut kita kuasai dan sukai. Berangkat sekolah pada pagi hari dan pulang siang hari. Waktu lebih kurang 8 jam untuk belajar juga masih kurang, sebagian pelajar memilih menambah jam belajar melalui bimbangan atau kursus. Sebagian lagi memilih mengembangkan minat dan bakat melalui extra kulikuler sekolah. Hal itu membuat pelajar pulang sehabis magrib, seolah pelajar lebih sibuk dibanding pekerja kantoran. Sepulang sekolah atau kursus, pelajar harus mengerjakan pekerjaan rumah yang merupakan kewajiban. Belum lagi jika ujian, yang mengharuskan pelajar mengulang kembali pelajaran. Itulah yang disebut tantangan, dan untuk menghadapi tantangan, butuh perjuangan. Siapa yang kuat berjuang, maka dia yang berhasil. Tidak ada yang instan dan mudah didunia ini. Seperti yang tertulis dalam lirik lagu nasional Indonesia Jaya, “Hidup tiada mungkin tanpa perjuangan, tanpa pengorbanan.”  Lelah, letih, bosan, menderita itulah yang dirasakan. Tapi tantangan tersebut akan terjawab jika kita mau berusaha dan bekerja keras. Dan rasa lelah akan berubah menjadi kebahagiaan.

Banyak tantangan dalam hidup ini, bukan hanya satu. Sebenarnya apa tujuan pelajar belajar dengan keras? Untuk bisa menjadi orang sukses di masa depan? Untuk memperbaiki perekonomian kehidupan pribadi? Untuk mewujudkan cita-cita? Apapun alasannya, sesungguhnya tujuan belajar saat ini adalah untuk menghadapi tantangan di masa depan. Itulah tujuan para orang tua dan guru yang selalu mendidik anaknya untuk rajin belajar. Karena tantangan itu dihadapi secara individual, jadi tiap orang harus menyiapkan bekal masing-masing. Sebagai contoh tantangan yang dihadapi pelajar saat ini adalah saat ujian. Tiap siswa-siswi belajar masing-masing saat menghadapi ujian agar bisa menjawab berbagai pertanyaan dengan baik. Seberapa tinggi nilai ditentukan oleh seberapa banyak jawaban yang benar dan yang menjawab pertanyaan itu adalah diri sendiri, tanpa bantuan guru, teman disekitar bangku atau siapapun.

Mewujudkan cita-cita juga merupakan tantangan. Dari kecil setiap orang sudah punya cita-cita, walaupun cita-cita kita sering berganti-ganti seiring perjalannya waktu.  Sewaktu kita SD, kita menganggap cita-cita itu sebuah tantangan di masa depan, karna masih jauh. Tapi apa yang kita lakukan dan pelajari sewaktu masih di sekolah dasar merupakan ‘persiapan’ untuk  menjawab tantangan tersebut.

Setiap orang punya cita-cita, tapi hanya sebagian orang yang punya niat dan berusaha untuk mewujudkannya. Ada sebagian yang berniat, hanya saja faktor eksternal tidak mendukung, seperti kendala ekonomi, tidak ada sarana yang mendukung dan larangan dari orang tua. Sebagai contoh, banyak pelajar yang ingin masuk ke fakultas kedokteran, tapi karna biaya yang mahal dan perekonomian yang tidak menyanggupi, akhirnya mereka melepas begitu saja impian mereka. Padahal, jika mereka mau berusaha keras, mereka bisa mendapat beasiswa atau bekerja sampingan untuk membiayai kuliah. Ingat, tidak ada yang instan, untuk menjawab tantangan butuh pengorbanan. Contoh kedua adalah saya sendiri. Saya sangat ingin menjadi Duta Besar, Diplomat, Konsulat atau apapun yang berkaitan dengan Hubungan Internasional dan menjadi penulis. Oleh sebab itu saya sangat terinspirasi dengan sosok Dino Patti Djalal yang merupakan seorang Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, penulis pidato presiden dan penulis best seller nasional. Saya ingin menjadi seperti dia suatu saat nanti. Saya sudah menginginkan profesi itu sejak kelas dua SMP. Dan untuk mewujudkannya saya harus bekerja keras untuk masuk ke jurusan Hubungan Internasional (HI). Tapi disaat saya sedang semangat-semangatnya untuk mewujudkannya di Sekolah Menengah Atas ini, ada suatu kendala yang membuat semangat saya menurun. Ketika saya menceritakan tentang keinginan saya ini kepada orang tua, mereka menentangnya dengan alasan saya tidak diijinkan untuk kuliah di luar kota dan biaya jika tidak tinggal dengan orang tua itu besar. Memang Hubungan Internasional tidak ada di kota Medan, jadi saya harus merantau ke luar kota, hal itu tidak menjadi masalah karna  jika jadi Duta Besar harus sering atau bahkan tinggal di luar negeri. Tapi yang menjadi masalah adalah pertentangan dari orang tua. Meskipun begitu, saat ini saya tetap tidak berhenti berusaha. Karna saya ingin mempersiapkan diri untuk menjawab tantangan di masa depan itu, untuk mencapai cita-cita saya sendiri. There’s a way, There’s a will. Bisa saja suatu saat nanti orang tua saya luluh. Nothing impossible, right? Jadi untuk semua orang yang punya niat, ayo berusaha bersama untuk mencapai impian kita.

Tidak sedikit pelajar yang tidak peduli dengan dirinya sendiri karna malas  dan berpikiran ‘ nanti aja deh, masih lama’ atau ‘takdir udah ada ditangan Tuhan’ dan lain sebagainya. Meskipun masih lama, kita harus membuat persiapan dari sekarang. Memang takdir ada ditangan Tuhan, tapi Tuhan tidak akan memberikannya pada orang yang tidak mau berusaha.

Kita adalah penentu bagaimana Indonesia di masa depan. Banyak generasi muda yang hanyut dalam perkembangan zaman yang semakin maju. Kita tidak pernah lepas dari Smartphone, barang elektronik yang canggih.  Tidak masalah jika menggunakan benda tersebut di era globalisasi seperti saat ini, tapi sebaiknya kita jangan terlalu bergantung. Kita harus menerapkan prinsip ‘tidak mau kalah dan keingin tahuan’ dalam hal positif. Bagaimana cara membuat smartphone canggih seperti itu? Mengapa Indonesia tidak bisa membuatnya? Apa yang menjadi kendala? Sebagai generasi muda kita harus berpikir maju dan menerapkan hal positif yang bisa kita ambil dari pengaruh globalisasi untuk memajukan Indonesia.

Kita juga harus meningkatkan rasa cinta tanah air atau nasionalisme. Kita harus mencintai dan menjaga budaya Indonesia agar tetap lestari dan tidak diambil bangsa lain. Pengaruh musik Hollywood dan k-pop membuat generasi muda tertarik dan mencintai aliran music tersebut. Sayangnya, bukan hanya musik yang dicintai, tetapi juga kebudayaannya. Bahkan generasi muda saat ini banyak yang mengeluarkan banyak uang untuk kursus bahasa asing. Hal tersebut memang sangat baik dan berguna, agar  rakyat Indonesia dapat lebih mudah berhubungan dengan bangsa asing. Tapi generasi muda harus tetap menjaga Bahasa Indonesia terutama bahasa daerah, dimana zaman sekarang orang cenderung malu mengucapkannya. Kita lebih memilih menggunakan bahasa modern dan gaul. Banyak anak kecil  yang tidak mengerti bahasa daerahnya sendiri karena diajari bahasa asing oleh orang tuanya yang asli orang Indonesia, seharusnya dua bahasa tersebut diajarkan secara seimbang. Seiring berkembangnya zaman, kebudayaan dan hal-hal tradisional akan tergeser. Jika tidak kita yang mempertahankannya siapa lagi?

Kita boleh menyukai negara lain. Saya ambil contoh, negara Korea Selatan yang saat ini sedang menyebarkan Hallyu wave dan Indonesia termasuk salah satu negara yang terkena penyebaran itu, juga Eropa dan Amerika. Bahkan Barack Obama memanggil Korea Selatan dengan sebutan “Modern Miracle” . Semakin hari semakin banyak anak muda yang menyukai para boy dan girl band dari negara itu. Para penyayi dari KorSel juga berlomba-lomba untuk mengadakan konser di Indonesia karna penggemarnya yang sangat banyak. Korea Selatan menyebarkan budayanya melalui  musik k-pop. Sehingga banyak orang yang ingin berwisata  kesana. Industri mereka juga sangat maju, merek Samsung dan LG yang berasal dari negara itu sudah tidak asing lagi bagi rakyat Indonesia.

Sebenarnya Indonesia bisa seperti Korea karna Indonesia lebih kaya dalam bidang SDA dibanding Korea.  Korea Selatan tidak punya banyak sumber daya alam untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Negara Korea sangat kecil hanya seperempat Pulau Sumatera, mereka hanya memiliki sumber daya manusia yang digunakan untuk membangun negara mereka. Hal itu sangat berbeda dengan Indonesia yang memiliki area 10 kali lebih besar. Indonesia juga memiliki banyak sumber daya alam. Sayangnya, Indonesia belum bisa seperti Korea Selatan. Padahal jarak kemerdekaan Indonesia daan Korea Selatan hanya berjarak dua hari (15 Agustus 1945 dan 17 Agustus 1945).

Dalam bidang politik Korea juga lebih maju dari Indonesia. Meskipun perang antara Korea Utara dengan Selatan masih berlangsung, mereka punya cara unik untuk menghadapinya dengan wajib militer. Setiap pria yang berusia dibawah 30 tahun wajib mengikuti pelatihan militer selama 2 tahun. Sedangkan Indonesia? Korupsi saja susah ditangani.

Image                   Image

Seoul juga menjadi salah satu tempat tujuan wisata terkemuka dan kota termahal di Asia setelah Jepang. Untuk itu, pemerintah kota Seoul berbuat yang terbaik untuk kotanya, salah satunya memperbaiki keadaan lingkungan dan arsitekturnya untuk menjadi tempat yang mempesona. Ada satu sungai kota, dimana dulunya adalah sebuah sungai kumuh di Seoul, sekitar 9 tahun lalu. Dan sekarang, sungai ini menjadi salah tempat wisata terkemuka kota Seoul. Itulah sungai Cheonggyecheon.

Sejak tahun 1970-an, Cheonggyecheon menjadi salah satu tonggak modernisasi Korea Selatan. Di daerah sepanjang sungai ini banyak di bangun jalan-jalan bertingkat. Namun air di sungai ini amat kotor dan tercemar karena banyak pemukiman liar di sepanjang sungai.

Sungai Cheonggyecheon ketika masih kotor dan tercemar 9 tahun lalu.

Image

Wali Kota Seoul saat itu, Lee Myung-bak mempraktekkan kebijakannya yang amat revolusioner. Ia ingin merevitalisasi sungai Cheonggyecheon. Jalan-jalan bertingkat dan pemukiman liar di atas sungai tersebut digusur. Maka pada tahun 2005, Cheonggyecheon menjadi kebanggaan warga Seoul yang menjadi simbol pelestarian lingkungan.

Dengan konsep dan strategi pemerintah kota, bisa membuat sungai ini menjadi symbol ‘modernisasi’. Pemerintah kota membuat tempat-tempat tinggal untuk penduduk di bantaran sungai dan mulai untuk merenovasi sungai Cheonggyecheon ini, walau mulainya warga disana berkeberatan untuk pindah ke apartemen murah yang disediakan oleh pemerintah kota

Sungai saat ini:

Sungai ini terletak di pusat kota dan menjadi daya tarik wisatawan dari berbagai negara. Di sisi kanan dan kiri sungai ini ada pedestrian bagi pejalan kaki. Suasananya amat menyenangkan walaupun di atasnya banyak lalu lalang kendaraan bermotor. sungai ini dapat menurunkan tingkat polusi udara dan kian menyejukkan udara di tengah kota …..

ImageImage

Image

Hal tersebut bisa menginspirasi Indonesia untuk memperbaiki Sungai Ciliwung. Tetapi satu hal patut dicatat, yang tak ada di Jakarta dibandingkan Seoul, yakni cara hidup sehat dan bersih. Kebersihan telah membudaya di Negeri Ginseng.

Kita tidak akan menemukan tempat sampah di area publik karena setiap orang harus memikirkan bagaimana ‘menyimpan’ sampahnya sampai tiba di rumahnya sendiri.

Tidak mau repot, mau gampang, itulah kultur masyarakat kita. Banyak yang tidak membuang sampah pada tempatnya, bahkan saat mobil melaju sering kita melihat orang membuang sampah ke tengah jalan raya.

Jadi, rencana revitalisasi Sungai Ciliwung harus disertai dengan dengan program pembudayaan cara hidup bersih dan sehat untuk seluruh warga. Tidak cukup hanya kepada mereka yang bermukim di sekitar sungai.  

Image

Image

Image

bukan hanya untuk Jakarta, tetapi untuk seluruh sungai  di Indonesia . Ahli sungai – tata kota, master plan, urban desain, tata lingkungan, insinyur pengairan, insinyur sipil atau mekanika dan hidrolika atau yang lainnya – bisa di minta untuk melakukan ini. Dan siapa yang menjadi profesi tersebut dimasa depan? Tentu saja generasi muda itulah sebabnya kita harus bekerja keras dari saat ini untuk dapat memajukan Indonesia. Kita harus memanfaatkan globalisasi untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik.

            Sebagai generasi penerus bangsa, kita harus bekerja keras dan berusaha dari sekarang untuk menghadapi tantangan di masa depan, karna nasib Indonesia ada ditangan kita. Bukan hal mustahil jika Indonesia menjadi negara maju suatu saat nanti. Kita harus mengikuti semangat para pejuang. Pahlawan sudah berusaha keras sampai mengorbankan darah dan nyawa untuk memerdekakan Indonesia, dan kita sebagai generasi muda bertugas untuk memajukan Indonesia sebagai negara maju. Kita harus menerapkan sikap nasionalisme atau cinta pada tanah air sendiri. Banyak hal yang ada di Indonesia yang tidak dapat kita temukan di negara lain, kita harus bangga akan hal itu.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s